Minggu, 25 Agustus 2013

Metode Khitan atau Sunat pada Wanita


Banyak di antara wanita yang masih belum memahami bagaimanakah khitan wanita atau sunat wanita yang benar. Mengenai masalah hukum khitan atau sunat bagi wanita sudah kerap kali dibahas dalam bahasan fikih. Yang jelas, hukum yang lebih tepat adalah sunnah, bukan wajib. Mengenai bagaimanakah metode yang benar dalam khitan wanita akan dibahas oleh dr. Raehanul Bahraen berikut ini. Beliau pun akan menjelaskan beberapa metode yang keliru dalam proses khitan atau sunat.

Bagian yang Di khitan

Bagian yang di sunat atau di khitan adalah klitoral hood (kulit penutup klitoris).
 
Apa itu Klitoral Hood? 
Sebagaimana disebutkan dalam Wikipedia “Klitoral hood atau disebut juga preputium clitoridis and clitoral prepuce adalah lipatan kulit yang mengelilingi dan melindungi clitoral glans (batang klitoris). Berkembang sebagai bagian dari labia  (bibir)minora dan merupakan homolog dari kulup penis (biasa disebut preputium) pada  kelamin laki-laki.”
 
Pengertian dari kamus kedokteran Dorland, “Lipatan yang terbentuk oleh penyatuan labia minora anterior (depan) dan bersatu dengan glans klitoris". Jadi klitoris terdiri dari glans (batang) klitoris atau yang dikenal oleh orang awam dengan “klitoris” saja dan klitolral hood yang merupakan kulit pembungkusnya.

Alasan Secara Anatomi Kedokteran
Telah dijelaskan bahwa klitoral hood adalah homolog dari kulup penis /preputium. Homolog merupakan istilah bahwa keduanya adalah organ awal yang sama ketika tahap embriologi. Dalam perkembangannya embrio organ genital berkembang sesuai dengan jenis kelaminnya. Pada laki-laki yang di sunat adalah kulup penis maka pada wanita juga demikian.


Sedangkan klitoris merupakan homolog dari penis. Hanya saja penis pada laki-laki berkembang terisi dengan bulbus cavernosus dan bulbus spongiosum serta pembuluh darah. Jika memotong klitoris maka sebagaimana memotong penis pada laki-laki.


Sebagaimana ma’ruf dalam syariat  bahwa hukum asal perintah bagi laki-laki sama dengan wanita sampai ada dalil yang memalingkannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إنما النساء شقائق الرجال
“Wanita itu saudara kandung laki-laki.” (HR. Abu Daud 236, Tirmidzi 113, Ahmad 6: 256 dengan sanad hasan).



keyword : sunat, khitan, sunat anak, khitan anak, sunat modern, khitan modern, sunat laser, sunat klamp

Berbagai Penelitian Medis Tentang Khitan/Sunat


Berbagai penelitian tentang sunat/khitan telah dilakukan oleh para ahli kesehatan, penelitian tentang sunat tersebut bertujuan untuk menguak lebih banyak informasi mengenai pengaruh sunat/khitan terhadap kesehatan tubuh dan untuk memperoleh data mengenai manfaat dan resiko sunat. Beberapa penelitian khitanan, diantaranya:
  • Peneltian tentang kulup dari penis. Penelitian ini dilakukan oleh seorang ilmuwan ternama di Australia, dari penelitian khitanan yang dilakukannya terdapat satu penemuan medis bahwasanya kulup dari penis menyimpan reseptor yang dapat menjadi perantara berbagai penyakit kelamin, infeksi kelamin dan AIDS. Oleh karena itu, dengan sunat (memotong kulup pada bagian atas penis), seorang laki-laki akan terjaga kesehatannya dan akan terhindar dari berbagai penyakit berbahaya yang mematikan.
  • Penelitian tentang pengaruh sunat terhadap seksualitas. Beberapa ilmuwan dari berbagai negara telah melakukan survei untuk memperoleh informasi tentang besarnya pengaruh sunat terhadap seksualitas laki-laki. Dari hasil penelitian khitanan tersebut disimpulkan bahwa pria yang tidak dikhitan kemampuan ereksinya akan lebih rendah dibandingkan pria yang dikhitan, selain itu pria yang dikhitan berpeluang besar untuk terhindar dari ejakulasi dini.
  • Penelitian tentang pengaruh sunat terhadap pasangan wanita. Penelitian tentang sunat ini dilakukan oleh seorang ilmuwan di Amerika Serikat, dari beberapa data yang didapatkannya diperoleh hasil bahwasanya pengaruh sunat terhadap wanita cukup besar, diantaranya:
  1. Pria yang disunat dapat memberikan kenikmatan berhubungan seksualitas lebih besar terhadap wanita. Sehingga banyak wanita yang memilih berpasangan dengan pria yang telah disunat.
  2. Khitanan dapat mencegah terjadinya berbagai penularan penyakit kelamin dan kanker serviks pada wanita. Dengan dilakukannya sunat maka tidak akan terjadi penimbunan kotoran pada penis (karena timbunan kotoran inilah yang menyebabkan berbagai infeksi kelamin, penyakit kelamin dan kanker serviks).
  3. Pria yang disunat memiliki peluang yang lebih besar daripada pria yang tidak disunat terhadap berhasilnya proses awal kehamilan, karena dengan dilakukannya sunat maka sperma akan mengalir dengan lancar ke rahim wanita.
  • Pengaruh sunat terhadap saluran kencing pria. Beberapa dokter kelamin di Amerika Serikat memperoleh data bahwa sunat dapat memperlancar saluran kencing pada pria. Sehingga kesehatan pria dapat lebih terjaga.
  • Pengaruh khitanan terhadap psikologis pria. Penelitian khitanan ini dilakukan oleh  seorang psikolog, dari data survey dapat disimpulkan bahwa apabila sunat dilakukan sesuai dengan ketentuan medis maka sunat tidak akan memberikan efek negatif terhadap psikologis pria. Namun, apabila khitanan yang dilakukan secara kasar atau tidak sesuai ketentuan medis maka akan menimbulkan trauma ataupun gangguan psikologis pada pria yang disunat tersebut.
  •  
keyword : sunat, khitan, sunat anak, khitan anak, sunat modern, khitan modern, klamp
sumber : www.rumahsunatan.com
www.khitandewasa.com

Beda Pria Disunat dan Tak Disunat


Menurut Dr Patti Britton, PhD, direktur Sexuality Certificate Track di  Chicago School of Professional Psychology/Westwood, sunat memberikan keuntungan khusus bagi Anda maupun pasangan Anda. Pertama, si dia tak perlu repot lagi membersihkan kulit penutup bagian kepala penisnya (preputium, atau lebih dikenal dengan sebutan kulup). Kepraktisan ini tak dimiliki oleh pria yang tidak disunat, karena ia butuh upaya ekstra untuk menarik kulit tersebut dan membersihkan bagian yang tertutup sebelumnya.

Membersihkan area kepala penis (yang tertutup kulup) memang diperlukan untuk menghindari aroma tak sedap atau pengaruh yang lebih serius dari penumpukan bahan yang dikeluarkan oleh kelenjar (smegma). Dengan sendirinya, lebih sedikit bakteri atau kuman yang bisa berpindah ke tubuh Anda dan memengaruhi kesehatan Anda.

Kedua, sebagian perempuan memilih pria yang sudah disunat karena penetrasi yang terjadi akan mengurangi gesekan yang kurang nyaman di dalam vagina. Begitu terjadi penetrasi, kepala penis yang sudah disunat lebih mudah masuk dan keluar untuk menciptakan rasa nyaman untuk Anda maupun pasangan Anda.

Sedangkan bila Anda memiliki pasangan yang belum disunat, seks yang lebih aman harus lebih diperhatikan. Pria dengan penis yang masih tertutup kulup kadang-kadang mengalami kesulitan menemukan kondom yang pas, atau memastikan kondom tetap terpasang selama penetrasi terjadi. Hal tersebut bisa menciptakan kekhawatiran tersendiri bagi perempuan, dan dengan sendirinya mengacaukan aktivitas seks tersebut.

Penis yang belum disunat juga memiliki aroma atau rasa yang berbeda. Aroma di area genital memang normal, tetapi jika terlalu kuat, kemungkinan besar penis pasangan kurang terjaga kebersihannya. Higienitas yang kurang juga bisa menyebabkan infeksi di bawah kulup, yang gejalanya bisa berupa iritasi, kemerahan, aroma tak sedap, dan gejala tak normal lainnya.

Meskipun begitu, bila selalu dijaga kebersihannya, penis yang belum disunat juga memberikan sensasi tersendiri. Lapisan tipis dari preputium tersebut sangat sensitif. Ketika mengalami ereksi, kulit tertarik sendiri ke porosnya, menampakkan kepala penis sehingga terlihat sama dengan penis yang sudah disunat. Selama intercourse, seks oral, dan masturbasi, kulit yang tertarik tersebut bisa bertindak sebagai pelumas. Ketika penis mendorong masuk, ia akan menciptakan gesekan ekstra yang bisa saja menimbulkan kenikmatan tersendiri bagi perempuan yang menyukainya.

Pada akhirnya, tidak ada yang lebih baik atau lebih buruk saat berhubungan seks dengan pria yang disunat atau tak disunat. Semuanya kembali pada selera masing-masing perempuan. Perempuan yang memiliki pasangan yang tak disunat pun bisa menikmatinya.

keyword : sunat, khitan, sunat anak, khitan anak, sunat modern, khitan modern, klamp

Tak Bersunat Meningkatkan Resiko Kanker Penis


Sunat dikatakan dapat membantu mengurangi risiko seperti penyakit menular seksual. Namun ternyata tak hanya itu. Sunat juga mengurangi risiko terkena kanker penis. Dengan kata lain, para pria yang tidak sunat berisiko terkena kanker penis.

Demikian diungkap Urolog Rumah Sakit Pusat Kanker Dharmais Jakarta Dr Rachmat B Santoso saat dihubungi melalui telepon, Jumat (15/5). “Penyebabnya adalah infeksi kronis pada orang yang tidak cirkumsisi (sunat),” kata Rachmat. Laki-laki yang juga berisiko adalah mereka yang pernah menderita herpes genitalis. Persoalan utamanya adalah tidak higienisnya alat kelamin laki-laki karena kepalanya tidak terbuka. Kebersihan daerah di bawah kulit depan glans penis tidak terjamin kalau tidak sunat.

Gejala yang dijumpai pada orang yang kena kanker penis adalah adanya luka pada penis, luka terbuka pada penis, dan merasa nyeri pada penis bahkan terjadi pendarahan dari penis. Biasanya ini terjadi pada stadium lanjut. Ciri lain adalah tampak luka yang menyerupai jerawat atau kutil pada penis.

Pengobatan kanker penis bervariasi, tergantung kepada lokasi dan beratnya tumor. Cara pertama adalah penektomi atau pemotongan, bisa sebagian bisa juga total. Rachmat mengilustrasikan, jika panjang penis 10 sentimeter dan yang terkena kanker hanya ujung penisnya maka yang panjang penis yang dipotong 2-3 sentimeter. “Tapi, jika yang kena kanker tiga perempat panjang penis, apa boleh buat penisnya harus dipotong habis,” katanya. Cara yang lain bisa berupa kemoterapi dan terapi penyinaran.

Rachmat mengingatkan, penyakit ini tidak boleh dianggap remeh oleh para lelaki. Menurut alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini, kanker penis banyak menyerang usia produktif, 30 tahun sampai 50 tahun.

Meski tidak banyak menyerang pria, dalam setahun hanya ada 2-3 orang yang datang ke RS Dharmais, Anda, para pria harus hati-hati. “Tidak signifikan memang, tetapi sangat mengganggu integritas karena menyangkut kelaki-lakian seseorang,” pungkasnya.


keyword : sunat, khitan, sunat anak, khitan anak, sunat modern, khitan modern, klamp
Sumber: www.rumahsunatan.com

Sunat Bisa Mengurangi Resiko AIDS


Studi terbaru dilakukan antara tahun 2007 dan 2010 di kota provinsi Orange Farm yang sudah melakukan 20.000 prosedur sirkumisisi atau sunat terutama pada kelompok usia 15-24 tahun yang merupakan kelompok paling aktif secara seksual.

Dalam forum AIDS internasional yang berlangsung di Roma, Italia, pekan ini, para ahli memaparkan tiga bukti ilmiah terbaru manfaat sunat untuk mencegah infeksi HIV. Manfaat dari sunat tersebut sebagai berikut:

1. Merasa lebih bergairah secara seksual. Pria yang disunat mengaku mereka lebih bergairah secara seksual. Hal ini terungkap dalam penelitian terhadap 316 pria berusia rata-rata 22 tahun yang menjalani prosedur sunat antara Februari dan September 2009. Setahun setelah operasi, 220 pria mengatakan mereka aktif secara seksual dan seperempatnya menggunakan kondom saat berhubungan seks. Sekitar 87,7 % menjawab tidak ada kesulitan dalam mencapai orgasme setelah disunat dan 92,3 % mengaku lebih bergairah

2. Tetap bisa melakukan seks yang aman. Pria yang baru disunat merasa mereka tak berbeda dengan pria yang tidak disunat dalam mempraktikkan seks yang aman. Kesimpulan itu merupakan hasil wawancara dengan 2.207 pria di Kenya, enam bulan pascaoperasi. Hal tersebut menjawab ketakutan para ahli bahwa pria yang disunat akan menolak melindungi dirinya dari infeksi HIV.

Namun, menurut Peraih Nobel tahun 2008, Francoise Barre-Sinoussi, yang menemukan HIV sebagai penyebab AIDS, rasa percaya diri yang berlebihan pada pria yang sudah disunat perlu dikhawatirkan. Karena tidak ada yang bisa menjamin perlindungan sampai 100 %, bahkan vaksin sekalipun. Berhentilah berpikir satu upaya perlindungan sudah cukup. Prosedur sunat adalah bagian dari upaya perlindungan diri selain juga pemakaian kondom, tambah Francoise.

Manfaat perlindungan dari sunat tidak ditemui pada perempuan yang melakukan hubungan seks dengan pria yang terinfeksi HIV. Hal yang sama juga berlaku pada pria homoseksual yang melakukan hubungan seks dengan orang dengan HIV AIDS.


keyword: sunat, khitan, sunat anak, khitan anak, sunat modern, khitan modern, klamp

Penyebab & Penanganan Mikro Penis


Spesialis endokrin anak dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Aman B Pulungan, berpendapat, mikropenis lebih disebabkan faktor hormonal sejak anak masih dalam kandungan. Dalam berbagai studi mengenai kasus tersebut diketahui adanya zat kimia yang mengganggu atau mengubah fungsi endokrin yang disebut endocrine disrupter chemicals (EDC). Zat pengganggu itu dapat menghambat kerja androgen, terutama mengganggu substansi yang bertanggung jawab dalam pembentukan organ seksual dan perkembangan karakteristik sekunder laki-laki. EDC tersebut, antara lain, adalah sejumlah zat yang terdapat dalam pestisida kimia, misalnya diklorodifeniltrikloroetan (DDT). Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah melarang sejumlah formulasi pestisida karena berbahaya bagi kesehatan secara keseluruhan.
DDT termasuk bahan aktif yang dilarang.
Zat pengganggu tersebut, sebagai komponen, dapat berinteraksi dengan estrogen ataupun androgen reseptor serta sebagai antagonis (lawan hormon endogen). Bukti-bukti ilmiah yang ada juga menunjukkan zat pengganggu memodulasi aktivitas atau ekspresi dari enzim steroidegenik. EDC juga berakibat terhadap kelainan dan perkembangan organ seksual. Gangguan itu terjadi sejak dalam kandungan. Aman mencontohkan, sebuah studi di China pernah mencatat adanya kasus mikropenis pada bayi-bayi yang dilahirkan di suatu wilayah tertentu pada waktu tertentu. Ternyata setelah diteliti, fenomena tersebut terkait dengan kandungan zat kimia (dalam kasus itu pestisida) yang masuk ke dalam tubuh.

Ukuran yang pas Orangtua dapat khawatir anaknya mikropenis jika penis tampak kecil, kelihatan kulupnya saja, atau penis seperti menyatu dengan kantong zakar sehingga sulit terlihat. Kondisi tersebut ada sejak lahir. ”Untuk ketepatan diagnosis, ukuran penis harus dipastikan dengan teknik pengukuran yang benar,” ujar Aman, yang juga Ketua Unit Kerja Koordinasi Endokrinologi Ikatan Dokter Anak Indonesia.

Dia mencontohkan, panjang penis bayi baru lahir pada  kondisi rileks umumnya 3,1-4,7 cm, anak umur 1 tahun 3,9-5,6 cm, dan anak umur 6 tahun 5,2-7  cm. Kekurangan 2,5 cm dari rentang ukuran normal masih  tidak perlu dikhawatirkan. Penis yang kurang dari ukuran normal itu disebut penis kecil dan belum perlu terapi hormon. Namun, jika kekurangannya 2,5 cm lebih dari rentang ukuran normal, anak dapat disebut mikropenis sehingga perlu diterapi.

Mikropenis dan kesuburan merupakan hal yang berbeda.  Masalah kesuburan lebih terkait dengan testis (zakar). Belum tentu pemilik mikropenis tidak subur. Hanya saja, seorang anak mikropenis dengan zakar tidak turun sangat berisiko terganggu kesuburannya. Ada kalanya kasus mikropenis diikuti dengan zakar kecil, zakar tidak turun, atau lubang kencing tidak pada  tempatnya (hypospadia).

Bisa ditangani Orangtua tidak perlu panik atau khawatir. Aman mengatakan, kasus mikropenis dapat ditangani. Sebaliknya, jika tidak ditangani, anak berisiko tetap mikropenis. Kelainan sebaiknya dideteksi dan diatasi sedari dini sehingga segera diterapi. Bahkan, terapi dapat dimulai sejak bayi. ”Sebaiknya, terapi jangan melewati usia pubertas atau masa pertumbuhan (14 tahun),” ujar President Elect Asia Pacific Paediatric Endocrine Society tersebut. Penanganan akan sangat sulit dan efek samping harus dinilai hati-hati.
Dalam terapi, spesialis endokrin anak memberikan hormon testosteron dalam dosis disesuaikan dengan kebutuhan anak. Terapi diberikan 4 kali setiap 3-4 minggu dengan total hanya 4 kali suntikan. Efek samping ringan yang dapat muncul, antara lain, adalah sering ereksi. Ada pula efek samping seperti memacu penutupan lempeng tulang (menghambat pertumbuhan) dan memacu pubertas jika dosis berlebihan, walaupun kasus demikian jarang terjadi. Dengan terapi, penis si kecil pun akan bisa tumbuh dengan baik.

keyword: sunat, khitan, sunat anak,khitan anak, sunat modern, khitan modern, klamp


Hasil Penelitian dan Saran dari UNAIDS Mengenai Pengaruh Sunat Terhadap HIV


Pada akhir tahun 2006, sebanyak 39.5 juta orang menderita HIV dan 4.3 juta orang merupakan penderita baru pada tahun tersebut. Oleh sebab itu dibutuhkan suatu solusi untuk mengatasi masalah tersebut dan butuh suatu teknologi untuk menekan jumlah orang yang terinfeksi. Khitan pada pria adalah salah satu metode yang potensial untuk menekan angka infeksi.

Sebuah penelitian menunjukkan bahwa pria yang di sunat memiliki tingkat resiko yang lebih rendah untuk terinfeksi HIV dibanding pria yang tidak di sunat. Pada 13 Desember 2006, UNAIDS mengkonfirmasikan sebuah hasil penelitian di Uganda sedikitnya 53% pria yang disunat, 51% nya terhindar dari HIV. Begitu juga yang terjadi di Afrika Selatan dimana jumlah yang terinfeksi HIV menurun 60%. Oleh sebab itu WHOdan UNAIDS melakukan konsultasi internasional untuk membahas dan memberi hasil dari hasil penelitian tersebut. Rencananya akan menjadi referensi untuk mengatasi masalah HIV.

Kesimpulan:
1. Hasil penelitian yang menunjukkan bahwa pria yang disunat secara umum menurunkan resiko terinfeksi HIV dari hubungan seksual sebesar 60%.
2. Pria yang disunat tidak menjamin terlindungi secara total dari infeksi HIV.
3. Perlu dilakukan penyuluhan dan sosialisasi pengenai pentingnya disunat.
4. Kultur dan budaya cukup mempengaruhi seseorang akan disunat.
5. Pemerintah harus mendukung upaya sunat dilakukan demi mengurangi angka resiko terinfeksi HIV.
6. Banyak keunggulan atau manfaat berupa kesehatan sosial yang akan diperoleh dari proses sunat.
7. Perlu memperbanyak tempat konsultasi atau klinik yang melayani sunat
8. Sunat juga memberi efek yang baik bagi pasangan untuk terhindar dari kanker servik dan HIV.

Saran:
1. Sunat modern pada pria harus diakui sebaga metode paling efektif untuk megurangi resiko terinfeksi HIV.
2. Promosi dan sosialisai harus dilakukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat.
3. Sunat jangan dianggap sebagai solusi mengatasi HIV tapi sebagai metode untuk mengurangi angka terinfeksi HIV.
4. Pemerintah harus mendukung promosi dan sosialisasi mengenai pentingnya sunat.
5. Organisasi di dunia merupakan partner untu sosialisasi tersebut.
6. Dibutuhkan suatu klinik sunat atau tempat untuk konsultasi yang dapat menjelaskan sunat tersebut.
7. Perlu dilakukan sejumlah evaluasi mendalam untuk memantau seberapa besar pengaruh sunat di berbagai negara.